Senin, 16 Maret 2009

Kesengsem Bebek Goreng Kertosuro

Selasa, 17/02/2009 11:52 WIB

Begor Pak Haji Slamet
Jakarta - Kalau mengaku pencinta bebek goreng tradisional, bebek goreng yang satu ini wajib Anda cicipi. Bagian luarnya garing renyah, tetapi daging di dalamnya lembut empuk. Jejak rasa manis yang lamat-lamat dengan aroma bawang yang semerbak membuatnya makin enak saja. Apalagi setelah dicocol sambal korek yang pedas-pedas gurih dan disuap dengan nasi hangat Hmmm... uenaaak tenan!

Kalau orang bilang bahwa makan itu ada hubungannya dengan emosi, maka benarlah adanya. Seperti yang saya alami sore itu. Di tengah hujan rintik-rintik dan kemacetan luar biasa, saya justru mengidamkan bebek goreng. Yang saya mau cuman bebek goreng Pak Slamet yang ada di Jl. Radio Dalam.

Saya masih ingat dulu saya pernah sarapan bebek goreng, pukul 8 pagi di warung pak Slamet yanga da di Kertosuro Solo. Makan pagi bermenu bebek goreng plus sambal yang bikin keringat berucuran. Kenikmatan itulah yang saya rindukan, karena itulah sore itu saya tetap ‘maksa’ mampir ke warung bebek goreng pak Slamet di Jakarta Selatan.

Untung saja warung masih sepi sehingga saya bisa leluasa melihat lemari kaca bersusun dua. Isinya beragam potongan bebek yang sudah direbus empuk dengan bumbu. Ada bagian paha, dada, kepala, ceker, hati dan ampela. Sebuah cobek besar berisi ulegan cabai rawit merah dan bawang pun masih belum slesaai disiapkan. Begorpun digoreng di depan warung sehingga bisa bebas diamati pengunjung.

Bebek goreng tradisional memang punya banyak versi. Ada yang gaya Jawa Timur dan Madura dan ada pula yang gaya Jawa Tengah (yang kadang ditambah kremesan versi ayam goreng Suharti). Dari petualanag makan begor, sayapun mulai tahu kalau bebek versi Jawa Timuran, jejak bumbunya lebih gurih asin dengan aroma kunyit dan jahe yang kuat. Sedangkan yang gaya Jawa lebih cenderung ke arah manis meskipun ada jejak gurih.

Paha bebek goreng kecokelatan disajikan di piring dengan irisan kol, timun dan kemangi plus semangkuk mungil sambal rawit. Tampilannya tak jauh berbeda degan begor lain. Aroma wangi segera tercium dari begor panas ini.

Saat saya sobek dagingnya langsung lepas. Gigitan pertama langsung terasa gurih-gurih dengan krenyes-krenyes di bagian luar. Dagingnya empuk dengan jejak rasa manis yang tak berlebihan. Justru seimbang dengan rasa gurih bawang plus aroma daun salam yang tak berlebihan juga. Jadi pas racikan bumbunya.

Bebek yang dipakai untuk begor ini dugaan saya seperti begor lain, bebek afkiran yang sudah pernah bertelor. Karena potongannya cukup besar. Bebek jenis ini memang cocok untuk begor dan tidak cepat hancur dagingnya saat diungkep dengan bumbu selama minimal 4 jam.

Yang jadi andalan Pak Haji Slamet Raharjo asal Sukohajo ini adalah sambal korek. Sambal ini sebenarnya sederhana. Hanya terbuat dari cabai rawit merah dan kuning, bawang putih, sedikit garam yang diuleg kasar. Aksen rasa gurihnya justru didapat karena sambal ini disiram jelantah (minyak bekas menggoreng) bebek. Jadi, gigitan si cabai tidak terlalu garang tetapi tetap ada sapuan rasa gurih lemak dan bumbu begor.

Rasa sedikit manis daging begor yang disatukan dengan sambal yang pedas plus nasi hangat menjadi kenikmatan yang dahsyat. Maka tak terasa sayapun menuntaskan begor ini dengan licin tandas! Saya lirik di meja sebelah seorang pengunjung asyik makan kepala dan ceker bebek. Hmm.. nyam nyam lezat mengasyikkan!

Agaknya Pak Slamet dari Kartosuro Solo sudah sadar akan ilmu marketing modern dengan membuka berbagai cabang di Jakarta, Bandung, Semarang, Bogor, Gresik dan Bekasi. Begor yang berlabel pak H. Slamet (asli) ini memang banyak tiruannya alias aspal yang mirip-mirip di kawasan Kartasuro Solo.

Nah, kalau Anda tergolong penggila begor dan sudah kebelet makan begor Kartasuro ini, bisa mampir di cabang yang di Jl. Fatmawati (depan D'best) atau yang di Jl. Radio Dalam. Soal harga, begor pak Slamet ini tak beda dengan begor lainnya. Satu potong dada begor Rp 16.000 dan paha begor Rp. 15.000 (termasuk lalap dan sambal korek). Kalau berikut nasi per paketnya Rp 17.500,00. Jika ingin membeli begor utuh harganya Rp 60.000 per ekor.

Warung Bebek Goreng H.Slamet
Sedahromo Lor RT 01 RW 07, Kartasuro, Sukoharjo
Jawa Tengah

Jalan Radio Dalam Raya No.47
(seberang Auto 2000)
Jakarta Selatan
Telp: 021-766 5937 ( dev / Odi )

Nasi Uduk Plus Trio Sambal, Nyam... Nyam!

Sabtu, 14/03/2009 12:29 WIB

Nasi Uduk Cibubur
Jakarta
- Nasi uduk memang banyak sekali versinya, seperti nasi uduk ini. Nasinya pulen dengan harum aroma serai dan daun salam yang kuat. Ayam goreng yang kriuk renyah menjadi teman yang setia. Saat dipasangkan dengan tiga jenis sambal plus kucuran sedikit kecap manis rasanya jadi gurih, manis dan pedas. Benar-benar mantap!

Meskipun sudah beberpa kali mampir ke kawasan Cibubur tetapi saya belum pernah singgah di rumah makan ini. Karena info dari seorang teman yang tinggal di Cibubur, dan saya yang tergolong penggemar nasi uduk pun memaksakan diri menyusuri jalan Alternatif untuk menemukan rumah makan ini. Rata Penuh

Rumah makan 'Nasi Uduk Cibubur' ternyata tidak sulit dicari karena memasang banner yang cukup mencolok dan terbilang ramai. Begitu duduk di salah satu meja yanga da di sudut ruangan, sayapun langsung menelusuri daftar menu. Hmmm... andalan rumah makan ini memang nasi uduk tetapi lauknya benar-benar komplet.

Seperti lazimnya resto nasi uduk, tentu saja ayam berserta segala bagiannya seperti usus, hati, ampela dan kepala jadi menu utama. Disamping itu ada tahu, tempe, iso, paru, empal, juga soto dan sup. Tentu saja saya langsung meemsan nasi uduk komplet dengan ayam goreng, tahu, tempe plus usus goreng.

Nasi uduk sebenarnya merupakan sebutan orang Betawi untuk basi yang dimasak dengan santan encer. Sedangkan di daerah lain sering disebut nasi gurih atau nasi lemak. Kalau nasi uduk gaya Betawi selain ayam goreng plus kerabatnya juga dilengkapi dengan semur jengkol dan semur tahu plus kentang. Buat nasi uduk yang minus semur jengkol ini orang menyebutnya sebagai nasi uduk Jakarta.

Sepiring otak-otak yang hangat plus sambalkacang disajikan di meja sebagai camilan menanti pesanan datang. Rasanya tak menegcewakan, gurih kenyal dengan aroma ikan yang harum. Sepiring nasi uduk hangatpun yang ditaruh di meja langsung menebarkan aroma harum. Disusul potongan paha ayam kampung yang mungil, tahu, tempe dan usus goreng. Sayur asam, plus lalapan menjadi pelengkap nasi uduk ini.

Harum serai dan daun salam dari nasi uduk menguap, sungguh lezat! Sekali suap hmm... nasinya terasa pulen, dan gurih yang pas. Taburan bawang merah goreng melengkapi keharuman nasi ini. Untuk menyantap nasi uduk, tersedia 3 jenis sambal di tiap meja. Sambal kacang yang kental kecokelatan, sambal cabai goreng dan sambal rawit.

Sambal kacangnya kental berwarna cokelat, mirip sambal satai ayam atau saus gado-gado. Kalau nasi uduk Betawi selalu memakai sambal kacang yang diberi kemiri, cuka, cabai dan garam hingga rasanya gurih, asam dan sedikit manis. Maka sambal kacang yang ini lebih mirip sambal satai ayam, rasanya lebih manis meskipun ada jejak gurih dan pedas yang tak menonjol. Nah, inilah mungkin yang disebut sambal nasi uduk a la Cibubur. Saya curiga ada pengaruh kuliner Jawa dalam racikannya.

Mengikuti gaya orang Betawi makan nasi uduk, maka ketiga sambalpun saya campur dengan sedikit kucuran kecap manis. Hmm... barulah terasa efek pedas, gurih, manis yang benar-benar enak! Ayam gorengnya mungil karena memakai ayam jantan ( di banner disebut sebagai ayam kampung). Teknik menggoreng dan membumbuinya patut diacungi jempol. Bagian luarnya renyah kriuk tetapi bagian dalamnya lembut dengans entuhan rasa gurih bawang dan aroma harum kunyit yang meresap ke bagian dalam dagingnya!

Cocolan trio sambal dan lalapan membuat nasi plus ayam goreng menjadi makin cepat tuntas dari piring. O,ya semangkuk sayur asam hampir lupa saya cicipi. Sayur asam nya berkuah sedikit butek, dugaan saya bumbunya pasti menggunakan kacang atau kemiri yang ditumbuk halus. Rasanya asam-asam manis, tidak seperti sayur asam khas Betawi yang bening dan lebih dominan rasa asam dan asin. Mungkin sayur asam ini sudah mengalami akulturasi rasa. Lebih segar, pedas dan menggigit seperti sayur asam khas Jawa!

Rasa pedas dan udara panas siang itupun mendorong butiran peluh berlarian dari dahi dan leher. Barulah terasa huah..huah ..pedas, enak dan mantap! Rasa pedas di mulutpun saya redam dengan segelas es kelapa muda yang benar-benar lembut, dikeruk halus dan disiram sirop vanili yang wangi!

Kalau akhir pekan ini jalan-jalan ke Cibubur dan merasa lapar, mampir saja menyantap nasi uduk di rumah makan ini. Harga yang ditawarkan juga tidak mahal. Seporsi nasi uduk Rp 4500,00, ayam goreng Rp 12.000,00, tahu dan tempe goreng Rp 2000,00/bh, dan es kelapa Rp 8500,00.
Perut kenyang dan kocek pun tidak terlalu kempes!

Ayam Kampung Goreng & Nasi Uduk Cibubur
Jl. Alternatif No.17A-B
Cibubur
Telp. 021-8454711 / 021-8454869
Range Harga: Rp 2.000,00 - Rp 28.000,00

Senin, 09 Maret 2009

Purwaceng yang Selalu Bikin Tersenyum


Selasa, 10/03/2009 11:40 WIB
Solo - Mendengar nama purwaceng, orang pasti akan tersenyum simpul, antara malu-malu dan penasaran. Apalagi orang Jawa yang familiar dengan kata, maaf, ngaceng (ereksi).

Tak pelak, obrolan rombongan wartawan Istana yang selama 3 hari mengikuti kegiatan SBY di Solo, Jawa Tengah, tak jauh-jauh dari ramuan penguat syahwat itu.

"Wah, Pak Menteri ada yang beneran bawa purwaceng nggak ya," ujar salah seorang wartawan TV dalam perjalanan dari Tawangmangu ke Solo, Minggu 8 Maret lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden SBY dengan berkelakar "menyarankan" menterinya membawa oleh-oleh tumbuhan itu ke Jakarta.

Tentunya, para juru warta enggan tanya langsung ke para menteri. Pertanyaan tersebut malah akhirnya jadi bahan gojekan. "Hayo, jangan-jangan salah satu dari kita ada yang bawa," celetuk wartawan lainnya.

Namun ada juga wartawan yang 'underestimate' pada tanaman ini. Karena bentuknya yang kecil dan tipis, purwaceng diragukan khasiatnya.

"Gue lebih percaya yang di Papua. Ada daun yang kalau dibungkuskan ke alat vital kita, ukurannya bisa menjadi sangat besar," kata seoran jurnalis radio. Beberapa peserta obrolan 'tidak penting ini' juga mengiyakan komentar sang jurnalis.

Purwaceng memang tidak tumbuh sembarangan. Tanaman berjenis rerumputan ini hanya bisa tumbuh di dataran tinggi seperti Dieng dan Tawangmangu.

Purwaceng yang bisa diartikan, setelah minum obat ini dijamin ereksi tersebut, sebenarnya tumbuh bebas di hutan liar. Namun karena bentuknya kecil dan nempel di tanah, membuat tanaman ini susah didapat.

Tak heran jika purwaceng yang dibudidayakan Depkes di Tawangmangu sering dicuri orang.

Tak sedikit teman dari rombongan wartawan ini yang minta dibawakan oleh-oleh purwaceng, untuk sekadar coba-coba. Tapi jangan harap keinginan itu bisa terkabul. Karena harus ke hutan dulu untuk mencarinya.

"Tapi cara makainya gimana ya," canda salah seorang teman via instant message.

Menurut kamus Wikipedia, purwaceng biasanya diolah dalam bentuk bubuk purwaceng, kopi purwaceng dan susu purwaceng.Anwar Khumaini - detikNews